Ensemble Multilaterale Mainkan Dua Karya Musisi Muda Indonesia

SURYA.co.id | SURABAYA – Meski sudah tiada, karya musisi Slamet Abdul Sjukur tetap dapat apresiasi musisi dunia. Kali ini karya musisi kelahiran Surabaya itu bakal kembali bergema lewat permainan Ensemble Multilaterale.

Karya Slamet Abdul Sjukur disajikan Ensemble Multilaterale secara khusus dalam Konser Ensemble Multilaterale di Grand Ballroom Sheraton Surabaya, Jumat (19/5/2017).

Dua komposisi Slamet yang mengalun malam itu adalah Svara (1996), dan The Source, Where the Sound Returns (1999).

Pertunjukan musik malam itu jadi kian berbeda ketika Ensemble Multilaterale membawakan Counter Noise (2017) karya Muh Arham Aryadi, dan The Love Awakened (2017) ciptaan Matius Shan Boone.

Dua komposisi itu merupakan karya pilihan juri dalam Sayembara Komposisi Musik Kontemporer yang digelar IFI bersama Pertemuan Musik, dan Ensemble Multilaterale bulan Oktober 2016.

“Ini cara mereka untuk mengapresiasi Slamet Abdul Sjukur sebagai tokoh Pertemuan Musik yang banyak berperan dalam mengedukasi masyarakat terhadap musik-musik kontemporer,” kata Pramenda Krishna A, Penanggungjawab Budaya & Komunikasi Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya.

Semangat Pertemuan Musik dianggap sama dengan Ensemble Multilaterale yang selama ini getol membawakan komposisi bernuansa kontemporer.

“Kami bangga dengan masyarakat Surabaya yang begitu menghargai beragam genre musik, khususnya kontemporer,” tegas Leo Warynski, Direktur Musikal Ensemble Multilaterale.

Untuk memotivasi para musisi muda Indonesia terhadap musik kontemporer ini pula Ensemble Multilaterale sengaja memilih karya terbaik yang disaring lewat lomba Komposisi Musik Kontemporer dan mereka bawakan secara khusus lewat konser di sejumlah kota di Indonesia.

“Satu saat kami bakal menghadirkan karya musisi Indonesia ini di hadapan publik Prancis agar masyarakat di sana makin mengenal musik Indonesia,” imbuhnya.

Leo Warynski tak menepis, sebagai negara yang dikenal tempat tumbuhnya musik kontemporer, ternyata warga Prancis sangat terkotak-kotak dalam mengapresiasi genre musik.

“Itu sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia, yang merespons apa pun musik yang hadir tanpa pikiran buruk,” tandasnya.

Matius sendiri mengaku bangga karyanya bisa terpilih dan dimainkan oleh Ensemble Multilaterale.

“Saya telah memimpikan karya saya dapat dipublikasikan oleh Universal Edition melalui Kompetisi Mauricio Kagel sejak lama. Dan mimpi itu terwujud. Kemenangan ini jadi semacam penerimaan bahwa karya saya dapat memberi sumbangan kecil bagi dunia maupun bagi negara saya,” tuturnya.
Mantribuncit.com Berita Viral Terpanas Hari Ini